Category Archives: #cmiiw

Kartini dan Syahrini

Kartini vs SyahriniPeringatan hari R.A. Kartini memang selalu menjadi kontroversi, menyaingi kontroversi Princess Syahrini. Agak canggung sih rasanya melakukan peringatan Kartini sebagai wanita istimewa disaat wanita-wanita hebat lainnya tak diistimewakan dengan diberikan “Hari”. 21 April dijadikan Hari Nasional sebagai Hari Kartini, setiap tanggal ini pula diperingati dan juga kontroversi terjadi. Ada beberapa persoalan sih yang mengganggu beberapa kalangan, diantaranya;

Keraguan Habis Gelap Terbitlah Terang

Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang terbit saat Pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik etis, dimana waktu itu surat-surat kartini (setelah Kartini meninggal) konon dikumpulkan oleh J.H. Abendanon (Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda). Kono juga Pak Abendanon ini sering meminta nasihat Snouck Hurgronje (Tahukan siapa dia? orang yang menyamar (pura-pura) menjadi muslim untuk membangun strategi menaklukan perang Aceh).

Dimana Pejuang Wanita Yang Lain? Continue reading

Orang Indonesia Memang Ahli Segalanya

It's MediaPada hari Minggu kuturut ayah ke ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka, saya ngantar istri untuk beli tiket bus, kebetulan ada tv di ruang tunggu menayangkan MotoGP, sebenarnya sih saya tidak terlalu suka dengan balapan, orang kok kurang kerjaan, muter-muter nggak jelas, mending motornya buat narik ojek atau buat nganter belanja simbok ke pasar, dapat pahala. Kebetulan juga pas saya lihat itu pas tayangan ulang terjatuhnya Marc Marquez karena ada kontak dengan Valentino Rossi yang kini heboh jadi pemberitaan di media.

Malam harinya sengaja saya membuka Facebook, dan benar seperti dugaan saya sebelumnya, sudah muncul berbagai macam komentar tentang insiden itu, ada status-status yang membela Valentino Rossi, ada status-status yang membela Marc Marquez, ada juga yang membela kebenaran layaknya jiban atau satria baja hitam. Continue reading

Kirim Paket Ke Luar Negeri Via POS Indonesia

Begini ceritanya, setelah buatin sarapan, istri ane minta tolong kirim paket menggunakan POS Indonesia buat customer-nya di Malaysia — Sampai kantor POS…. bingung! persis seperti orang stres yang lupa jalan pulang ke rumah, tak ada yang jaga di pintu masuk, petugas pada sibuk sendiri, tak ada petunjuk, tengak-tengok cari nomor antrian pun tidak ada, cari meja CS juga tak nampak orangnya, akhirnya ada orang pakai baju hitam-hitam, pikir ane wah ini satpam pasti, masa iya mau melayat, setelah ane meyakinkan diri kalau orang itu satpam, langsung ane samperin dan tanyain prosedur kirim paket. Walah, ternyata tanpa nomor antrian langsung saja menuju loket yang kosong.

Paket yang ane kirim sekitar 2,7Kg, ada dua pilihan waktu itu, yang pengiriman biasa (nyampainya bisa 2 minggu) atau EMS (Express Mail Service) sekitar 5 hari sudah sampai, dengan kurs USD waktu itu Rp14.730,- (nggak nyangka dolar udah segini) biaya yang harus ane bayar 479.000,- karena ane milih yang EMS, kalau yang paket biasa sekitar Rp385.000,- berikut rinciannya: Berat 2,710Gr, Biaya Rp468.414,- PPN1% Rp4.684,- HTNB Rp5.500,- Secara keseluruhan, cukup puas dengan layanan POS Indonesia. Ya meski banyak yang perlu dibenahi, ah biasa instansi pemerintah sukanya gitu.

Update: Paket Sudah Sampai

Salah Kaprah Ibadah Haji

Haji. Alhamdulillah deh ya sebagian saudara kita mulai melaksanakan ibadah haji, ibadah mahdhoh yang mempunyai syarat dan ketentuan berlaku. Ibadah yang menjadi impian kebanyakan petani di kampung saya, ibadah yang menyita banyak perhatian pemerintah, ibadah yang bisa menjadi sebuah “ladang emas” bagi oknum di pemerintahan. Tidak seperti rukun islam lainnya yang 100 % wajib, ibadah haji ini memang khusus, memiliki syarat dan ketentuan. “Mampu”, iya, kata mampu itu yang menjadikan haji menjadi wajib. Nah tapi dalam persoalan ibadah haji ini, ada beberapa hal yang mengganggu saya, teramat mengganggu nurarni (tsah);

Definisi “mampu”

Apa sih sebenarnya definisi “mampu” yang menjadi syarat ibadah haji? Banyak orang sekitar kita mengatakan “ah saya belum dipanggil Allah” nanti saja ketika sudah dapat hidayah (tipe orang suka ngeles). Ada lagi “duit segitu kan bisa buat bla-bla-bla dulu, nanti sajalah ketika sudah punya ini sudah punya itu (tipe seret). Lantas apa sebenarnya mampu? Jangan tanya saya.

Gelar Haji di Indonesia

Gelar H. dan Hj. cukup menggelitik, kalau haji ada gelarnya bagaimana dengan rukun Islam yang lain? Apakah harus ada S.S.P.Z.H. (sahadat, salat, puasa, zakat, haji). Konon dulunya gelar haji yang disematkan pada nama seseorang merupakan tanda yang diberikan oleh pemerintah kolonial, sebagai penanda agar mudah terlacak jika terjadi pemberontakan, tetapi sekarang aneh, gelar tersebut lebih mengarah ke prestise.

Ibadah haji berulang kali

Inilah yang sering menjadi masalah di masyarakat bawah. Antrian keberangkatan Haji di Indonesia yang seperti tak berujung (lebay), dibeberapa daerah saja seseorang yang mendaftar haji harus rela menunggu sekitar 12-14 tahun. Disatu sisi (sebut saja si kaya) dia mampu haji berulang kali tanpa memikirkan saudara-saudara kita yang sudah tua-tua yang harus ngantri sekian tahun. Apakah bukan suatu kedzaliman? Nggak tahu. Menurut pandangan negatif saya, ada beberapa alasan/motivasi mengapa orang hobi beribadah haji; yang pertama, dia merasa hajinya kurang sempurna, yang kedua untuk meningkatkan status sosial, yang ketiga untuk halan-halan. Bukankah ibadah semacam haji ini bersifat vertikal ya, hubungan pencipta dengan ciptaannya, tetapi apa, inilah realita.

Sekian, tidak ada unsur apapun dalam tulisan ini selain hasrat jiwa (nggaya) untuk menuangkan apa yang saya tangkap dari semesta. Semoga kita selalu diberi petunjuk, dan taubat kita diterima. Semua kesalahan pada tulisan ini semata-mata karena kefakiran ilmu saya. Wallahu a’lam.

Silaturahim Saat Lebaran? Kamuflase!

Benar saja, seperti tahun-tahun lalu, hal yang membuat saya tidak bersemangat adalah ketika lebaran tiba. Kalau boleh memilih, saya tidak menginginkan lebaran, Iya lebaran, tradisi manusia setelah puasa usai, zoon politicon, sebutan buat manusia yang hobi ngumpul, bergaul, atau malah rela digauli? Hoho. Tapi bukan itu yang saya benci, bukan lebaran yang ajang silaturahim, bukan lebaran yang waktunya ngumpul dengan orang-orang terkasih, tetapi lebaran yang hanya dijadikan kamuflase, silaturahim yang hanya dijadikan kamuflase, tradisi mulia yang diselewengkan, nilai-nilai silaturahim yang dikaburkan. Silaturahim yang hanya dijadikan untuk pamer kekayaan, pamer kemewahan, pamer kesuksesan di rantau.

Lebaran tahun ini  banyak macam orang yang saya jumpai, mulai dari pria setengah baya mengenakan setelan batik semi suteranya yang sepertinya ia beli dari kota rantau, tangan kiri memegang kunci mobil mewah, tangan kanannya sibuk meraba-raba smartphone keluaran terbaru yang sepertinya memang lebih smart darinya. Juga tante-tante berbedak tebal dengan minyak mengalir dimukanya, saya hanya nebak kalau bedak yang dipakainya itu sisa-sisa abu vulkanik gunung slamet. Belum lagi gadis-gadis yang statusnya mahasiswi baru, bergaya dengan sandal high heels 10 kilo meter, sandal yang sampai sekarang saya gagal paham apa  maksud dan tujuan diciptakannya, lenggak lenggok mengenakan celana kolor warna-warni keluaran designer ternama yang itu. Ada lagi, orang tua yang dengan bangga menceritakan karier anaknya, tentang pekerjaan anaknya sebagai kontraktor bangunan, tentang kuliah anaknya yang mendapat beasiswa karena pintar, tentang anaknya yang lulus dengan predikat cumlaude, tentang anaknya yang baru saja dilamar oleh pemilik dealer motor. Semu! Iya semu!

DImana makna lebaran sebenarnya? DImana hakikat puasa? Masalah yang pelik, bukan masalah orang tolol tapi masalah mental cebol. Mungkin ada yang bilang “ah itu kan suatu kebanggaan atas keberhasilan dirinya, buah atas kerja kerasnya”, kalau sedikit ngomongin teori, ada yang namanya self-esteem ada yang namanya self-confidence, keduanya erat kaitannya dengan kebanggaan, dan batas kebanggaan dengan kesombongan itu tak terlihat, tipis, iya tipis, tapi nggak bersayap. Meski demikian saya tetap bahagia dengan adanya lebaran, tapi tak lebih bahagia karena kulit manggis ada esktraknya. Semoga kita dalam lindunganNya.