“kuhamil duluan, sudah tiga bulan, gara-gara pacaran tidurnya berduaan, kuhamil duluan, sudah tiga bulan, gara-gara pacaran suka gelap-gelapan” Yang bener aja ni lagu, masak ada pacaran tidur berduaan, kebo kale. Ngomong-ngomong soal tiga bulan, saya ingin sedikit cerita, tiga bulan sudah saya di kampung inggris, kampung yang konon orang-orang ngomong pakai bahasa inggris semua (bohong banget). Mengapa saya di kampung inggris bukan di kampung duren, karena jelas saya mau belajar bahasa inggris bukan mau belah duren (hahaha). Maklum bahasa inggris saya parah gila! dan karena ada sesuatu hal yang mengharuskan saya untuk belajar bahasa inggris (mau tidak mau sampe mati pokoknya) maka pergilah saya ke kampung ini, exactly nama kampungnya adalah Tulung Rejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Kampung ini memang tidak besar, tidak sebesar lapangan bola maksudnya. Dulu saya tahunya kalau di kampung inggris itu semua ngomong pakai bahasa inggris, tapi ternyata tidak, hanya asrama saja yang mewajibkan bahasa inggris setiap harinya. Disini banyak banget manusia yang belajar bahasa inggris, mulai dari yang lulusan SMA (baca: ababil) sampai doktor (kasian amat).

kampung inggrisAda berbagai macam kursusan disini mulai dari yang fokus grammar, fokus speaking, ada juga yang sistemnya macam sekolahan. Belajar di kampung inggris ini memang cukup efektif, bayangkan saja, bulan pertama saya di kampung inggris, saya masuk kelas mulai jam 05.30 sampai 17.30, tentunya ada jedanya diantara itu, pokoknya sampai muntah-muntah deh belajar bahasa inggris. Foto sebelah ini (enggak tau itu gayanya kok jempol dua begitu itu maksudnya apa gak ngerti) foto saya (yang ganteng gila #ngok) dan foto teacher di kampung inggris, nama kursusannya the daffodils, terus kalau nama orangnya Dwi Indah Wahyuni, saya biasa memanggil Mom Indah, beliau ini kalau ngomong bahasa inggris macam buang air aja, cas cis cus cos crot (namanya juga teacher kale). Beliau adalah semi-finalis kontes public speaking 2010 (kalau enggak salah) se Asia yang diadakan di Malaysia, beliau satu-satunya orang Indonesia yang maju sampai semi-final.

Tiga bulan di kampung inggris, saya ngerasa ya jelas ada perubahanlah, meskipun belum bisa ngomong cas cis cus crot, masih rada-rada gagap gitu. Tapi yang jelas cocok banget deh buat yang mau belajar total bahasa inggris, selain efektif, harganya juga murah, beda jauh sama kursusan di kota-kota besar, biaya hidup juga lumayan murah, hampir sama kaya’ di Jogjalah kalau urusan perut, terus kalau urusan tempat tinggal, ada dua pilihan di sini, ada yang camp dan ada yang kost. Kalau camp sehari-hari ya bahasa inggris, kalau kost ya macam kost-kostan biasa gitu, terus apalagi ya, ah udah ah ceritanya, kalau ada yang pengen tau/penasaran tentang kampung inggris, tanya aja, mumpung saya masih di sini. Oh iya, setelah dari Pare biasanya mereka (dengan pamernya) akan bilang, Hi  I’m from Pare and I Speak English!