Kartini dan Syahrini

Kartini vs SyahriniPeringatan hari R.A. Kartini memang selalu menjadi kontroversi, menyaingi kontroversi Princess Syahrini. Agak canggung sih rasanya melakukan peringatan Kartini sebagai wanita istimewa disaat wanita-wanita hebat lainnya tak diistimewakan dengan diberikan “Hari”. 21 April dijadikan Hari Nasional sebagai Hari Kartini, setiap tanggal ini pula diperingati dan juga kontroversi terjadi. Ada beberapa persoalan sih yang mengganggu beberapa kalangan, diantaranya;

Keraguan Habis Gelap Terbitlah Terang

Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang terbit saat Pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik etis, dimana waktu itu surat-surat kartini (setelah Kartini meninggal) konon dikumpulkan oleh J.H. Abendanon (Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda). Kono juga Pak Abendanon ini sering meminta nasihat Snouck Hurgronje (Tahukan siapa dia? orang yang menyamar (pura-pura) menjadi muslim untuk membangun strategi menaklukan perang Aceh).

Dimana Pejuang Wanita Yang Lain?

Disaat kartini mendapatkan hari istimewa 21 April, bagaimana dengan pejuang wanita lainnya seperti Tjut Nyak Dien, Dewi Sartika, Christina Martha Tiahahu, dsb. Mengapa mereka tidak diberi Hari Istimewa? Hari Tjut Nyak Dien, Hari Dewi Sartika, sama-sama wanita, sama-sama pejuang, atau bahkan kalau perlu Princess Syahrini pun juga diberi Hari Nasional! :p

Benar atau tidaknya memang hanya Tuhan, J.H. Abendanon, kawan Abendanon, dan pemerintah Hindia Belanda yang tahu pasti, tapi mau tanya ke dia juga orangnya kan sudah meninggal. Ya sudah… tidak perlu diributkan berlebihan, yang penting sih proporsional saja dalam menghargai para pahlawan. Dan saya anggap 21 April bukan hanya untuk Kartini, tetapi pejuang perempuan yang lain, serta seluruh perempuan Indonesia, termasuk Syahrini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *