Silaturahim Saat Lebaran? Kamuflase!

Benar saja, seperti tahun-tahun lalu, hal yang membuat saya tidak bersemangat adalah ketika lebaran tiba. Kalau boleh memilih, saya tidak menginginkan lebaran, Iya lebaran, tradisi manusia setelah puasa usai, zoon politicon, sebutan buat manusia yang hobi ngumpul, bergaul, atau malah rela digauli? Hoho. Tapi bukan itu yang saya benci, bukan lebaran yang ajang silaturahim, bukan lebaran yang waktunya ngumpul dengan orang-orang terkasih, tetapi lebaran yang hanya dijadikan kamuflase, silaturahim yang hanya dijadikan kamuflase, tradisi mulia yang diselewengkan, nilai-nilai silaturahim yang dikaburkan. Silaturahim yang hanya dijadikan untuk pamer kekayaan, pamer kemewahan, pamer kesuksesan di rantau.

Lebaran tahun ini  banyak macam orang yang saya jumpai, mulai dari pria setengah baya mengenakan setelan batik semi suteranya yang sepertinya ia beli dari kota rantau, tangan kiri memegang kunci mobil mewah, tangan kanannya sibuk meraba-raba smartphone keluaran terbaru yang sepertinya memang lebih smart darinya. Juga tante-tante berbedak tebal dengan minyak mengalir dimukanya, saya hanya nebak kalau bedak yang dipakainya itu sisa-sisa abu vulkanik gunung slamet. Belum lagi gadis-gadis yang statusnya mahasiswi baru, bergaya dengan sandal high heels 10 kilo meter, sandal yang sampai sekarang saya gagal paham apa  maksud dan tujuan diciptakannya, lenggak lenggok mengenakan celana kolor warna-warni keluaran designer ternama yang itu. Ada lagi, orang tua yang dengan bangga menceritakan karier anaknya, tentang pekerjaan anaknya sebagai kontraktor bangunan, tentang kuliah anaknya yang mendapat beasiswa karena pintar, tentang anaknya yang lulus dengan predikat cumlaude, tentang anaknya yang baru saja dilamar oleh pemilik dealer motor. Semu! Iya semu!

DImana makna lebaran sebenarnya? DImana hakikat puasa? Masalah yang pelik, bukan masalah orang tolol tapi masalah mental cebol. Mungkin ada yang bilang “ah itu kan suatu kebanggaan atas keberhasilan dirinya, buah atas kerja kerasnya”, kalau sedikit ngomongin teori, ada yang namanya self-esteem ada yang namanya self-confidence, keduanya erat kaitannya dengan kebanggaan, dan batas kebanggaan dengan kesombongan itu tak terlihat, tipis, iya tipis, tapi nggak bersayap. Meski demikian saya tetap bahagia dengan adanya lebaran, tapi tak lebih bahagia karena kulit manggis ada esktraknya. Semoga kita dalam lindunganNya.

2 thoughts on “Silaturahim Saat Lebaran? Kamuflase!

Leave a Reply