Tag Archives: gelar haji

Salah Kaprah Ibadah Haji

Haji. Alhamdulillah deh ya sebagian saudara kita mulai melaksanakan ibadah haji, ibadah mahdhoh yang mempunyai syarat dan ketentuan berlaku. Ibadah yang menjadi impian kebanyakan petani di kampung saya, ibadah yang menyita banyak perhatian pemerintah, ibadah yang bisa menjadi sebuah “ladang emas” bagi oknum di pemerintahan. Tidak seperti rukun islam lainnya yang 100 % wajib, ibadah haji ini memang khusus, memiliki syarat dan ketentuan. “Mampu”, iya, kata mampu itu yang menjadikan haji menjadi wajib. Nah tapi dalam persoalan ibadah haji ini, ada beberapa hal yang mengganggu saya, teramat mengganggu nurarni (tsah);

Definisi “mampu”

Apa sih sebenarnya definisi “mampu” yang menjadi syarat ibadah haji? Banyak orang sekitar kita mengatakan “ah saya belum dipanggil Allah” nanti saja ketika sudah dapat hidayah (tipe orang suka ngeles). Ada lagi “duit segitu kan bisa buat bla-bla-bla dulu, nanti sajalah ketika sudah punya ini sudah punya itu (tipe seret). Lantas apa sebenarnya mampu? Jangan tanya saya.

Gelar Haji di Indonesia

Gelar H. dan Hj. cukup menggelitik, kalau haji ada gelarnya bagaimana dengan rukun Islam yang lain? Apakah harus ada S.S.P.Z.H. (sahadat, salat, puasa, zakat, haji). Konon dulunya gelar haji yang disematkan pada nama seseorang merupakan tanda yang diberikan oleh pemerintah kolonial, sebagai penanda agar mudah terlacak jika terjadi pemberontakan, tetapi sekarang aneh, gelar tersebut lebih mengarah ke prestise.

Ibadah haji berulang kali

Inilah yang sering menjadi masalah di masyarakat bawah. Antrian keberangkatan Haji di Indonesia yang seperti tak berujung (lebay), dibeberapa daerah saja seseorang yang mendaftar haji harus rela menunggu sekitar 12-14 tahun. Disatu sisi (sebut saja si kaya) dia mampu haji berulang kali tanpa memikirkan saudara-saudara kita yang sudah tua-tua yang harus ngantri sekian tahun. Apakah bukan suatu kedzaliman? Nggak tahu. Menurut pandangan negatif saya, ada beberapa alasan/motivasi mengapa orang hobi beribadah haji; yang pertama, dia merasa hajinya kurang sempurna, yang kedua untuk meningkatkan status sosial, yang ketiga untuk halan-halan. Bukankah ibadah semacam haji ini bersifat vertikal ya, hubungan pencipta dengan ciptaannya, tetapi apa, inilah realita.

Sekian, tidak ada unsur apapun dalam tulisan ini selain hasrat jiwa (nggaya) untuk menuangkan apa yang saya tangkap dari semesta. Semoga kita selalu diberi petunjuk, dan taubat kita diterima. Semua kesalahan pada tulisan ini semata-mata karena kefakiran ilmu saya. Wallahu a’lam.