Geliat Open Source di Perpustakaan Malaysia

2
5

Beberapa hari yang lalu saya dengan beberapa rekan kantor mengunjungi tiga Perpustakaan Universitas di Malaysia. Ketiga kampus yang saya kunjungi tersebut bisa dibilang kampus besar. Dan kami disambut dengan sangat ramah!

Dalam lawatan saya tersebut, ada kesamaan diantara ketiganya yang sukses membuat saya tercengang, mereka sama-sama tengah migrasi (satu kampus telah migrasi, 2 kampus dalam proses migrasi) menggunakan open source software. Padahal saat ini dua diantara mereka masih menggunakan software berbayar tinggi yang mumpuni dari segi support, reliabilitas, bahkan interoperabilitas yang sangat baik. Kira-kira apa alasan yang mendasari mereka untuk berhijrah?

Open Source Software di Indonesia

Dulu, saya seringkali mendengar istilah IGOS, Indonesia Go Open Source, yaitu gerakan untuk meningkatkan penggunaan dan pengembangan perangkat lunak yang bersifat terbuka (open source) yang dideklarasikan pada tanggal 30 Juni 2004 oleh beberapa kementerian.

Kata Linus Torvalds; “software is like sex: it’s better when it’s free“. What a quotes! Tapi jangan dibawa serius ya, mau bayar atau gratis tetap dosa besar kalau masih jomblo :p

Open Source Software Untuk Perpustakaan

Khusus untuk perpustakaan dan yang terkait, dunia telah menyediakan banyak sekali perangkat lunak yang bersifat terbuka. Bebas pakai, bebas modifikasi, bebas didistribusikan kembali, dan bebas dibisniskan :p

Penggunaan open source untuk perpustakaan bukan soal uang saja, tetapi juga karena aspek kemandirian dan kebebasan. Tetapi alasan utama jika saya yang ditanya, ya memang tetap saja karena masalah anggaran.

Antara KOHA dan SLiMS, Malaysia Pilih Mana?

Dalam diskusi dengan mereka, saya mendapatkan gambaran asalan yang mendasari mereka untuk rela meninggalkan kenangan masa lalu. Yaitu faktor biaya pengadaan dan biaya after sales yang setiap tahun mengalami peningkatan. Bukan karena mereka tak mampu, tapi terkait efisiensi anggaran.

Selain dari sisi kebijakan, dari sisi teknis tentang pilihan open source software yang mereka gunakan juga sedikit saya obrolkan dengan mereka, KOHA dan SLiMS kami sempat bahas juga terkait perkembangannya.

Sama seperti yang dilakukan pada pertengahan tahun 2014, di kampus tempat saya mengabdi, KOHA dan SLiMS adalah pilihan open source software utama saat melakukan perencanaan untuk migrasi. Namun karena keterbatasan referensi tentang KOHA, dan lebih kepada faktor kemasyhuran SLiMS di Indonesia, serta dukungan komunitas yang besar di Indonesia, maka menggunakan SLiMS adalah pilihan tunggal.

Begitu pun di Malaysia, banyak alternatif open source software untuk perpustakaan, tetapi nampaknya KOHA lebih menjadi pilihan utama mereka, saya belum melakukan diskusi teknis secara mendalam mengapa mereka menjatuhkan pilihan meminang KOHA, mengapa bukan yang lain, atau bukan SLiMS. Jelas, yang saya tahu, KOHA lebih populer di Malaysia dibanding di Indonesia, sama halnya dengan SLiMS.

Konklusi

Ada banyak komponen anggaran untuk menjalankan penyelenggaraan perpustakaan, termasuk anggaran untuk sistem yang muaranya pada kualitas layanan. Tetapi bagaimana bila komponen anggaran itu bisa digeser? Tentu akan jauh lebih efisien.

Namun tetap saja there ain’t no such thing as a free lunch. Kemandirian dari sisi teknologi harus berbanding lurus dengan kemandirian sumber daya manusia yang ada. Jika tidak mau bayar dengan uang, bayarlah dengan kemampuan.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here