Sertifikasi Pustakawan Klaster Pengembangan Kemampuan Literasi Informasi

Sertifikasi Pustakawan Klaster Pengembangan Kemampuan Literasi Informasi

Saya sangat setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa kompetensi seorang pustakawan dibuktikan dengan kinerja dalam melayani pemustaka, bukan pada selembar kertas sertifikat (sertifikasi pustakawan).

Terlepas dari pendapat tersebut, sertifikat dan surat keputusan-keputusan lain, penting digunakan untuk keperluan adminstrasi yang menunjukkan bahwa kompetensi kita mendapat pengakuan dari pihak lain (lembaga sertifikasi).

Maka, saya memutuskan untuk mengikuti sertifikasi pustakawan tahun ini, karena beberapa tahun sebelumnya saya mempunyai kesempatan mengikuti, tetapi tidak saya lakukan, karena alasan kurang lebih seperti pendapat di atas.

Sertifikasi Pustakawan

Merujuk SKKNI yang tertera pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 239 Tahun 2019, standar kompetensi pustakawan ada beragam, namun saat saya mengikuti sertifikasi pustakawan, klaster yang ditawarkan oleh LSP hanya tersedia 13 klaster saja.

Klaster Pengembangan Kemampuan Literasi Informasi

Klaster pengembangan kemampuan literasi informasi adalah klaster yang saya pilih saat mengikuti sertifikasi pustakawan. Alasan saya memilih klaster tersebut selain karena saya pernah melaksanakan kegiatan literasi informasi, adalah karena tidak ada pilihan lain sesuai dengan keinginan, yang hanya terbatas pada 13 klaster.

Klaster pengembangan kemampuan literasi informasi terdiri dari lima unit kompetensi, yaitu:

1. Mendefinisikan kebutuhan informasi individu;

2. Melakukan penelusuran informasi;

3. Melakukan evaluasi informasi;

4. Melakukan analisis-sintesis informasi;

5. Melakukan diseminasi informasi.

Saat pelaksanaan, pada masing-masing unit komptensi asesor akan menanyakan beberapa pertanyaan, baik pertanyaan lisan ataupun tertulis (esai dan pilihan ganda), kemudian diberi tugas praktik kasuistik yang harus diselesaikan pada saat itu juga.

Saya sarankan bagi yang ingin mengambil klaster ini, untuk mempelajari teori-teori dasar literasi informasi, membiasakan dengan penelusuran jurnal-jurnal nasional mapupun internasional, juga jangan lupa membiasakan melakukan analisis dan sintesis informasi dari artikel-artikel ilmiah.

Untuk pustakawan perguruan tinggi, kelima unit kompetensi tersebut pastinya sudah sering melakukan, jadi menurut saya, tidak akan ada kesulitan yang berarti dalam asesmen.

Dokumen apa yang perlu dipersiapkan?

Selain dokumen wajib yang diminta oleh panitia sertifikasi pustakawan, akan diminta juga dokumen pendukung. memang, tidak ada ketentuan khusus dalam menyiapkan dokumen pendukung ini, karena dokumen ini bukan dokumen utama, hanya dijadikan sebagai portofolio yang diharapkan akan dapat membantu asesor untuk menentukan kompetensi asesi.

Beberapa dokumen pendukung yang saya siapkan, saya serahkan ke asesor adalah modul literasi informasi yang pernah saya buat, laporan kegiatan literasi informasi yang pernah saya kerjakan, dan sertifikat yang relevan dengan kegiatan literasi informasi di perpustakaan.

Pada intinya, dokumen pendukung adalah dokumen yang ditunjukkan kepada asesor untuk mendukung dan meyakinkan asesor bahwa asesi adalah seorang yang komptenen.